create pieces of visual works

THIS BLOG IS CURRENTLY UNDER CONSTRUCTION

tumblropenarts:

Paperina by Hanabirawa 2013

tumblropenarts:

Paperina by Hanabirawa 2013

Kepada yang hidup di ruang bijaknya sendiri, yang tengah asyik merasa benar sendiri;

Jarak antara memusuhi dan menghargai itu hanya satu jengkal.  Jangan sampai hanya karena satu jengkal, kita lantas memusuhi objek di depan kita.

World-understanding, menghargai dinamika, Sikap ini kami temukan diantara melebur dan mengasingkan diri.

Akan selalu ada yang mempertanyakan, memperdebatkan, menyanggah apapun pemikiran maupun keyakinan kita. 

Dunia adalah tempat ‘Kamu’ dan ‘Aku’.  Setiap teritori berpotensi sebagai tempat memulai peperangan atau persahabatan.  

'Kamu' dan 'Aku' adalah beda, namun kedamaian berasal dari penerimaan tentang bagian diri kita yang tidak pernah bisa berdamai.

Kepada yang nomadik, yang tidak pernah tinggal dalam ruang benar;

Dunia tidak selalu abu-abu, yang berwarna tidak selalu untuk ditampik.

Utopia adalah kenihilan.  Yang nihil tidak akan menghasilkan. 

Yang nomadik bukan berarti tidak berani mengkotakkan diri, bukan berarti juga mengejar kenihilan.  

Walau dimanapun yang nomadik tak akan pernah menetap stabil, mereka setidaknya harus melahirkan alternatif pemikiran.

Yang nomadik bukan juga selalu objektif, karena wujud gerak ide harus lahir dari subjektif yang arif.

Yang nomadik akan salah jika menempatkan objektif sebagai pembenaran.  Karena yang tengah asyik merasa benar, bisa jadi memang benar adanya.

(hbw,2013)

 

Malas?

  • Mereka tidak punya akses untuk pendidikan, kau punya. Jadi kenapa malas? Kau orang yang beruntung.  Tidak pantas kau malas!” - Bang Togar.
  • Setiap kemalasan artinya memboroskan waktu sekarang, hari ini, detik ini.
  • Lan tarji’ ayyamullati madhat.  Tak akan kembali hari-hari yang telah berlalu.

-Ranah 3 warna

Diam

“Gobloklah orang yang mengatakan sedikit bicara, banyak bekerja. Goblok! Orang yang demikian itu tak pernah meninjau ke dalam sejarah dunia.  Semboyan kita harus: Banyak bicara, banyak bekerja.” -Adolf Hitler tentang propaganda.

Diam itu emas..Terlalu banyak diam itu bodoh.

Mereka yang banyak diam seringkali meng’emas’kan sifat pengecutnya.

Padahal kebenaran dibuktikan dengan bicara bukan diam.

(hbw)

Menceburkan diri ke kolam tetangga

#bg1
 
Sebagai perupa visual, kami lebih banyak kecewa ketika memandang karya sendiri.  Rasanya sudah 1001 malam kami berkutat mengejar utopisme rupa dan makna, tapi seringkali eksekusi akhir bukan lagi hasil pemikiran utopis, namun ide pendek yang tiba-tiba muncul dikala tenggat waktu hampir habis.  

Masih untung jika kami berkesempatan berkutat dengan utopisme terlebih dahulu.  Namun adakalanya kami malah terbentur filosofi kampiun lain, sehingga demi prabawa, kami merasa wajib menopengkan diri dengan nilai kebagusan mereka

Agar tidak tenggelam dalam ranah prestige, kami harus mengikat  diri pada alasan mengapa kami rela menceburkan diri ke kolam tetangga:  dengan menceburkan diri, kami berharap menemukan kepingan jawaban lain dalam kontruksi utopis yang sedang kami bangun.

Nihilisme dan Ketuhanan di Jalur Pendakian

: di remang-remang

Selama mengalir napas ini, kami berada di remang-remang ketinggian kehidupan.  Melihat ke bawah ataupun ke atas, sama-sama jelas sekaligus samar.  Kami mulai pesimis sekaligus sinis.

Kami tidak yakin puncak mana yang akan kami capai, dan apa pula gunanya mencapai puncak jika tidak ada artinya. Kami ragu untuk melanjutkan pendakian.  

Kami menjadi cerewet pada pikiran kami sendiri. Pikiran yang kami anggap cerdas mulai lelah dan hilang arah.  Kami terlalu banyak tanya dan menjawab sendiri. 

Kami teringat isi tas kami dan berhenti untuk mengeluarkan peta.

Ketuhanan, adalah peta kami.

Kami melihat peta.  Di sana telah tertulis batas-batas perjalanan kami.  

Yah..sampai disini ketuhanan memang menghentikan kami untuk bertanya.  Ketuhanan seolah berkata untuk berhenti dalam kapasitas kami sebagai manusia.

: kenihilan

Walaupun kapasitas kami memberi seribu jawaban kenihilan, tapi kami tidak pernah berhenti bertanya.  Karena setidaknya satu langkah dapat dicapai dengan bertanya. 

Namun bila kenihilan menghentikan langkah, kami akan mengingat waktu tenggat : satu setengah jam*

Lebih baik menciptakan langkah daripada melamun memandang kenihilan.  Pendakian ini antara dinikmati dan dipungkiri, toh tetap kami terseok-seok. 

*)1 hari akhirat = 1000 tahun dunia

(hbw,2013)

Menalar Tuhan

  • Seorang asing berkata pada kami, “Tuhan hanyalah hasil cipta manusia untuk memuaskan berbagai pemikiran. Kau percaya Tuhan? Kenapa? Buktikan eksistensinya!”
  • Bagi kami, eksistensi Tuhan berada pada segala keteraturan di alam semesta. Dengan nalar melihat berbagai apa yang ada lalu memahami semua itu bukan suatu kecelakaan tapi ‘by design’.
  • Namun, alasan tersebut tidaklah cukup bagi banyak orang. Lebih tepatnya, alasan apa pun tidak akan cukup jika menalar Tuhan diartikan sebagai pembuktian inderawi. Haruslah juga secara Transendental.
  • Jika pada akhirnya segala pertimbangan teoritis menyerah, maka menalar Tuhan hanya dapat dipuaskan jika kita sudah mati.

(hbw)

Keyakinan dalam ruang kata

Sihir Paling Sakti
‘Kata-kata’ menurut Albus Dumbledore adalah sihir paling sakti.
Tapi kata hanya sebuah simbol pemaknaan. Makna suatu eksistensi. Keyakinan pada sesuatu.
Maka, mungkin keyakinanlah sihir paling sakti. Keyakinan ada untuk dicari, diperjuangkan, disanggah, diaggungkan, dicaci-maki.
Keyakinan menghasilkan peradaban (seperti fajar peradaban Göbekli Tepe).
Keyakinan menciptakan damai juga konflik.
Keyakinan melahirkan. Keyakinan mematikan.

Keyakinan

Pada akirnya setiap kata hadir untuk ditarungi kata lain. Seolah setiap huruf adalah pembelaan. Sehingga tidak ada lagi arti.

Dunia hanya imaji.

Maka memahami setiap layar sebagai drama perseturuan tidaklah bijak.

Tidak perlu mencari makna sampai ke tepi. Keyakinan akan menjawab pertanyaan (jika kau punya).

Cukup.

(hbw)

hanabirawa

hanabirawa

Bercak Hujan

seri: pengalaman yang paling batin lewat artikulasi yang remang-remang

-hanabirawa 2013

Thanks!

Thanks!

Sneak peek of my Sketchbook Project 2012 (world tour).
Title: The Yearning of the Wind
Theme: Fears and Tears
The wind is inseparable from the trees
But can’t live in the forest
It races to the desert and the sea
Leaving the islands,
Leaving you behind
The wind in its travels brave gales
And is unafraid of losing the world
And tonight when it reaches the South Pole,
Penguins will bid it welcome
Their wings and legs caked in snow
The wind yearns for the teak trees
Gives flight to the fragrance-of-the-night
Lays out frangapini in the village’s bosom
I am the wind, tired of travelling alone
Cities, planes, the fumes of industry
Sicken and weaken me
God, send me back to the teak forest
Let me sleep in the banana leaves,
Lay me down in the hills that gave birth to me
Poetry by Eka Budianta

Sneak peek of my Sketchbook Project 2012 (world tour).

Title: The Yearning of the Wind

Theme: Fears and Tears

The wind is inseparable from the trees

But can’t live in the forest

It races to the desert and the sea

Leaving the islands,

Leaving you behind

The wind in its travels brave gales

And is unafraid of losing the world

And tonight when it reaches the South Pole,

Penguins will bid it welcome

Their wings and legs caked in snow

The wind yearns for the teak trees

Gives flight to the fragrance-of-the-night

Lays out frangapini in the village’s bosom

I am the wind, tired of travelling alone

Cities, planes, the fumes of industry

Sicken and weaken me

God, send me back to the teak forest

Let me sleep in the banana leaves,

Lay me down in the hills that gave birth to me

Poetry by Eka Budianta